Kalau James Cameron pensiun setelah tahun 1997, dia tetap bakal dikenang sebagai salah satu sutradara paling berpengaruh sepanjang masa. Tahun itu dia merilis Titanic — film paling sukses secara komersial dan paling banyak menang penghargaan dalam kariernya. Total: 11 Oscar dari 14 nominasi. Cameron waktu itu sampai bilang di panggung Oscar, “I’m the king of the world!” — ngutip dialognya sendiri dari Titanic. Emang agak sombong, tapi ya… dia punya alasan untuk pamer. Sama kayak John Lennon yang dulu bilang The Beatles “lebih populer dari Yesus.” Kontroversial, tapi ada benarnya juga.
Sebelum Titanic, Cameron udah lebih dulu bikin sederet film keren: dua film Terminator, Aliens, The Abyss, dan True Lies. Semua itu udah cukup buat bikin namanya melegenda di abad ke-20. Tapi di abad ke-21, kariernya didominasi oleh satu hal: Avatar. Buat sebagian orang yang nggak nge-fans sama dunia biru Pandora, ini mungkin nyebelin. Tapi buat yang suka spektakel megah, drama besar, dan visual edan, seri Avatar adalah definisi hiburan layar lebar maksimal.
Film-film ini sepenuhnya berisi DNA James Cameron: air, teknologi, robot besar, cinta campur aksi, emosi yang meluap-luap, dan dunia yang detail banget. Bedanya, di Avatar, semua itu dinaikkan volumenya sampai level “gila total.” Ya, filmnya panjang banget — dua yang terakhir lebih dari tiga jam — tapi selalu ada hal keren yang bisa diapresiasi setiap kali dunia Pandora muncul lagi di layar. Jadi, dari tiga film Avatar yang sudah rilis sejauh ini, mana yang paling nendang? Yuk kita urutkan dari posisi ketiga sampai yang paling top.
– 3 –
‘Avatar: Fire and Ash’ (2025)
![]()
Sulit ngomongin Fire and Ash tanpa nyenggol akhir film keduanya, tapi karena The Way of Water ditonton banyak banget orang (dan menghasilkan duit nyaris segila film pertamanya), kayaknya semua udah tahu arah ceritanya. Film ini dibuka dengan suasana duka — keluarga Sully masih berusaha bangkit setelah kehilangan besar di akhir film kedua. Tapi nggak lama, semuanya berubah jadi perang besar-besaran yang bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Kalau The Way of Water ngebuat kita kagum dengan dunia bawah lautnya, Fire and Ash nendangnya lewat skala pertempuran yang masif. Tapi karena jarak antara film kedua dan ketiga cuma tiga tahun, film ini terasa sedikit “akrab” — mungkin terlalu mirip. Beberapa adegan malah berasa pengulangan. Paruh awalnya sempat menjanjikan arah baru, terutama waktu keluarga Sully terpisah dan muncul suku Na’vi baru yang jauh lebih kejam. Tapi di pertengahan, ceritanya balik lagi ke pola aman: perang, kehilangan, dan penebusan.
Dari sisi spektakel, film ini tetap luar biasa — apalagi pas adegan aksinya meledak-ledak. Sayangnya, tempo cerita kadang terlalu cepat, dan rasa familiar yang berlebihan bikin film ini kalah berkesan dibanding dua pendahulunya. Tetap saja, buat penonton yang sudah jatuh cinta dengan dunia Avatar, Fire and Ash masih bakal bikin puas. Cuma ya, kalau Cameron mau bikin film keempat, dia harus lebih berani eksperimen cerita supaya nggak terasa mengulang lagi dan lagi.
– 2 –
‘Avatar’ (2009)
![]()
Aneh memang menyebut film sebesar ini “sederhana,” tapi dibanding sekuelnya, Avatar terasa lebih kecil dan to the point. Ceritanya memang klasik — tentara manusia nyamar jadi alien, lalu jatuh cinta sama budaya mereka dan berbalik melawan bangsanya sendiri. Iya, plot-nya mirip banget sama Dances with Wolves atau Pocahontas, tapi justru di situlah kehebatan James Cameron. Dia bisa bikin cerita mainstream terasa megah dan menghipnotis. Kadang kesederhanaan justru jadi kekuatan — kayak lagu pop enak yang gampang dinyanyiin semua orang.
Banyak yang nyinyir soal kisahnya yang “template”, tapi lihat aja hasil akhirnya: dunia Pandora yang luar biasa detail, teknologi motion capture yang revolusioner, dan pengalaman 3D yang waktu itu belum pernah ada tandingannya. Film ini campur semua elemen khas Cameron: sains fiksi, aksi, sedikit romansa, dan drama emosional, lalu dikemas dalam dunia yang bikin rahang jatuh. Dan meskipun butuh 13 tahun buat akhirnya dapat sekuel, Avatar pertama masih berdiri kokoh sebagai salah satu film paling memukau secara visual di abad ini.
– 1 –
‘Avatar: The Way of Water’ (2022)
![]()
James Cameron memang jago bikin sekuel. Aliens dan Terminator 2 aja udah bukti kuat. Dan sekarang, The Way of Water bisa dibilang lebih keren dari film pertamanya. Kalau Avatar punya keunggulan di pacing dan efek “wah, ini dunia baru!”, maka The Way of Water unggul dalam skala dan kedalaman emosi. Ceritanya meluas — keluarga Sully kini jadi pusat konflik, dan waktu yang berlalu membuat anak-anak mereka tumbuh serta berperan penting.
Kita juga dikenalkan dengan suku baru di wilayah lautan, dan di situlah Cameron benar-benar “ngamuk.” Dia cinta air, dan film ini adalah bukti paling jelasnya. Setiap adegan bawah laut di sini benar-benar seperti mimpi: indah, tenang, dan penuh detail yang mustahil dilakukan orang lain. Memang, film ini dikritik karena durasinya yang kelewat panjang — lebih dari tiga jam — dan sebagian besar waktu dihabiskan untuk “menikmati dunia,” bukan mendorong cerita maju. Tapi justru di situ pesonanya. The Way of Water bukan cuma tontonan, tapi pengalaman imersif yang menenangkan sekaligus megah.
Ketika akhirnya aksi dimulai, pertarungannya brutal dan emosional. Dan secara teknis, film ini benar-benar nggak ada lawannya. Satu-satunya hal yang mungkin sedikit kalah dari film pertama hanyalah musiknya — Simon Franglen tampil oke, tapi sulit menandingi James Horner, komposer legendaris yang sudah tiada. Meski masih terlalu baru untuk dinilai abadi, The Way of Water terasa seperti film yang bakal semakin dihargai seiring waktu. Ini bukan cuma sekuel hebat, tapi salah satu film blockbuster paling indah dan emosional yang pernah dibuat.
Sumber: Disney & Collider