Review: ‘Bring Her Back’ — Horor Terbaru Philippou Brothers yang Lebih Menghantui dari ‘Talk to Me’

Tahun 2022, duo sutradara Danny dan Michael Philippou langsung mencuri perhatian dunia horor lewat Talk to Me — film menyeramkan tentang duka dan kehilangan yang akhirnya jadi film horor terlaris dalam sejarah A24. Lewat debut panjang itu, Philippou bersaudara berhasil menciptakan kombinasi maut antara visual yang melekat di kepala, adegan yang bikin jantung berhenti, dan cerita kehilangan yang menghantam emosi.

Yang bikin film itu begitu menakutkan bukan cuma hantu-hantunya, tapi rasa putus asa seseorang yang kehilangan orang terpenting dalam hidupnya — sampai rela melakukan apa pun hanya untuk bisa melihat mereka lagi, walau cuma sebentar. Kini, dua tahun kemudian, mereka kembali dengan film kedua yang sudah lama ditunggu: Bring Her Back. Dan kali ini, mereka menggali luka itu lebih dalam — lebih kelam, lebih emosional, dan bahkan lebih menghancurkan dari sebelumnya.

Cerita Bring Her Back tentang apa?

Film ini mengikuti kisah Andy (Billy Barratt) dan adiknya Piper (Sora Wong), yang pulang sekolah hanya untuk menemukan ayah mereka sudah meninggal di kamar mandi. Karena Andy belum cukup umur untuk menjadi wali sah Piper, mereka akhirnya ditempatkan di rumah asuh milik Laura (Sally Hawkins), seorang wanita aneh yang masih berduka atas kematian putrinya. Laura tinggal bersama anak laki-lakinya yang misterius, Oliver (Johan Wren Phillips) — anak pendiam yang sering dikurung di kamar, jarang bicara, bahkan nyaris tak terlihat makan.

Awalnya, Laura tampak eksentrik tapi baik, terutama pada Piper, yang kebetulan juga punya gangguan penglihatan seperti mendiang putrinya. Tapi Andy mulai merasa ada sesuatu yang nggak beres di rumah itu. Laura punya pandangan aneh tentang kematian. Ia sering menutup diri di kamar dan menonton rekaman VHS kabur berisi ritual menyeramkan. Saat Piper mulai nyaman, Andy justru makin curiga bahwa ada sesuatu yang sangat jahat sedang terjadi. Tapi… apakah semua itu nyata, atau cuma trauma Andy yang membuatnya mulai kehilangan grip pada kenyataan?

Philippou Bersaudara Tahu Cara Bikin Penonton Gelisah

Lewat dua film saja, Danny dan Michael Philippou sudah menunjukkan bahwa mereka jago banget menciptakan atmosfer yang bikin tidak tenang — dan mereka tahu persis kapan harus menyembunyikan sesuatu dari penonton agar rasa takutnya maksimal. Di Talk to Me, kita cuma dikasih cuplikan kecil dari arwah yang berinteraksi dengan karakter. Dan justru karena banyak hal disembunyikan, film itu terasa lebih mimpi buruk daripada film hantu biasa. Di Bring Her Back, teknik itu dipakai lagi. Kita cuma dikasih potongan-potongan rekaman VHS buram, yang menampilkan sosok-sosok monster samar. Dari cara Laura menatap rekaman itu, jelas dia terinspirasi melakukan sesuatu dari yang dia lihat — tapi penonton harus menyusun sendiri puzzle-nya. Karena tidak ada jawaban pasti, film ini menancap lebih dalam ke bawah kulit penonton.

Kalau di Talk to Me kehilangan adalah pemicu cerita, di Bring Her Back rasa kehilangan itu jadi inti filmnya — dan digabungkan dengan kengerian psikologis yang benar-benar bikin nyesek. Laura, Andy, dan Piper sama-sama hidup dalam trauma dan kehilangan. Laura tidak pernah benar-benar bisa melepaskan anaknya; Andy berusaha jadi kakak yang lebih baik dari ayahnya; sementara Piper hanya ingin keluarga yang utuh. Melalui mereka, Philippou bersaudara menceritakan bagaimana manusia menghadapi kehilangan: apakah kita belajar dan melanjutkan hidup, atau justru terjebak di masa lalu dan terus berusaha menghidupkan kembali sesuatu yang seharusnya sudah kita lepaskan.

Akting yang Membuat Tragedinya Terasa Nyata

Yang bikin Bring Her Back begitu kuat adalah penampilannya. Sally Hawkins tampil luar biasa sebagai Laura — ibu asuh yang hidupnya terhenti sejak kematian anaknya. Dari cara berpakaian, tumpukan kaset video lawas, hingga ekspresi kosongnya, semuanya menggambarkan seseorang yang tidak pernah benar-benar keluar dari masa lalu. Hawkins menampilkan sosok yang tragis — bukan monster, tapi manusia yang hancur karena cinta dan kehilangan. Tindakannya memang mengerikan, tapi kita bisa memahami mengapa ia melakukannya. Ia bukan jahat, hanya terperangkap dalam kesedihan yang tak berujung.

Lalu ada Johan Wren Phillips sebagai Oliver — dan jujur, ini salah satu akting anak-anak paling menyeramkan dalam film horor beberapa tahun terakhir. Hampir seluruh penampilannya tanpa dialog, tapi aura yang ia bawa bikin bulu kuduk berdiri. Dia berjalan pelan di lorong, mengintip dari balik pintu, atau hanya berdiri diam di sudut ruangan — semuanya terasa tidak wajar. Tapi seperti Laura, kita tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik dirinya, sesuatu yang membuatnya tidak sepenuhnya bisa disalahkan.

Sementara itu, Billy Barratt dan Sora Wong memainkan peran Andy dan Piper dengan hati. Mereka mungkin tidak se-“liar” Laura atau Oliver, tapi justru merekalah inti emosional film ini. Kita benar-benar peduli dengan mereka dan ingin mereka selamat dari kekacauan yang terjadi. Naskah karya Danny Philippou dan Bill Hinzman berhasil membuat kita rooting untuk keduanya sampai akhir.

Film horor tentang kehilangan sudah banyak, tapi Bring Her Back menonjol karena cara Philippou bersaudara menggabungkan kesedihan dan kengerian dengan begitu alami. Film ini tidak mencoba memberi pesan baru tentang duka — tapi cara mereka menuturkannya membuat semuanya terasa segar dan menghantui. Bring Her Back menangkap kegelapan dan ketakutan dari kehilangan seseorang, lalu mengubahnya jadi salah satu film horor paling mengguncang tahun ini. Sama seperti Talk to Me, film ini menunjukkan bahwa Danny dan Michael Philippou bukan cuma pembuat jumpscare, tapi pencerita sejati yang tahu bagaimana membuat penonton takut sekaligus hancur hati di saat yang sama.

Sumber : Collider

Facebook
X
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *